| Potensi Sumber Daya dan Analisis Pendapatan Usaha Peternakan Sapi Perah di Kabupaten Sinjai |
|
|
|
| Oleh Ir. Nuraeni, M.Si & TIM |
| Sabtu, 12 Desember 2009 03:06 |
|
Visi pembangunan peternakan adalah
pertanian berkebudayaan industri, dengan
landasan efesiensi, produktivitas, dan
berkelanjutan. Peternakan masa depan
dihadapkan pada perubahan mendasar
akibat perubahan ekonomi global,
perkembangan teknologi biologis,
berbagai kesepakatan internasional,
tuntutan produk, kemasan produk, dan
kelestarian lingkungan. Konkritnya,
peternakan Indonesia akan bersaing ketat
dengan peternakan negara lain bukan saja
merebut pasar internasional tapi juga
dalam merebut pasar dalam negeri
Indonesia. Untuk itu perlu mendorong
peternak agar tetap mampu bersaing baik
pada skala lokal, regional dan nasional
maupun internasional (Saragih, 2000).
Salah satu usaha budidaya peternakan
yang sekarang ini banyak dikembangkan
untuk memenuhi kebutuhan gizi adalah
sapi perah. Usaha ternak sapi perah di
Indonesia masih bersifat subsistem oleh
peternak kecil dan belum mencapai usaha
yang berorientasi ekonomi. Rendahnya
tingkat produktivitas ternak tersebut lebih
disebabkan oleh kurangnya modal, serta
pengetahuan/keterampilan peternak yang
mencakup aspek reproduksi, pemberian
pakan, pengelolaan hasil pascapanen,
penerapan sistem pencatatan, pemerahan,
sanitasi, dan pencegahan penyakit. Selain
itu pengetahuan peternak mengenai aspek
tataniaga harus ditingkatkan sehingga
keuntungan yang diperoleh sebanding
dengan pemeliharaannya.
Menurut Laporan Direktorat Jenderal
Peternakan, Indonesia masih mengimpor
susu 80 % setiap tahunnya. Produksi susu
nasional belum mampu memenuhi seluruh
kebutuhan konsumsi dan impor susu akan
terus meningkat, sehingga perlu
peningkatan populasi dan efesiensi
produksi susu serta diversifikasi ternak
perah. Berdasarkan hal tersebut di atas,
maka disamping usaha yang dilakukan
pemerintah maupun swasta, usaha
peternakan sapi, kerbau, dan kambing
perah mempunyai prospek untuk
dikembangkan pada masa sekarang dan
yang akan datang.
Ketidakseimbangan produksi dengan
permintaan konsumen dalam waktu yang
lama menyebabkan penurunan populasi
beberapa jenis ternak dan sentra
pengembangannya di Indonesia,
khususnya terhadap sapi perah. Keadaan
ini merupakan peluang dan tantangan
dalam rangka otonomi daerah untuk
mengupayakan pengembangan komoditi
peternakan dan sumberdaya alam (SDA)
yang berbasis lokal dan sumberdaya
manusia (SDM) serta sumberdaya buatan
yang tersedia.
Kabupaten Sinjai menyimpan potensi
peternakan yang sangat besar baik potensi
ternak, lahan, sumberdaya manusia dan
potensi agroklimat wilayah yang beragam
yang memungkinkan bagi pengembangan
berbagai jenis komoditi ternak, sehingga
sudah sepantasnya pembangunan di
bidang peternakan menjadi tumpuan
perekonomian masyarakat di Kabupaten
Sinjai.
Visi pembangunan peternakan adalah pertanian berkebudayaan industri, dengan landasan efesiensi, produktivitas, dan berkelanjutan. Peternakan masa depan dihadapkan pada perubahan mendasar akibat perubahan ekonomi global, perkembangan teknologi biologis, berbagai kesepakatan internasional, tuntutan produk, kemasan produk, dan kelestarian lingkungan. Konkritnya, peternakan Indonesia akan bersaing ketat dengan peternakan negara lain bukan saja merebut pasar internasional tapi juga dalam merebut pasar dalam negeri Indonesia. Untuk itu perlu mendorong peternak agar tetap mampu bersaing baik pada skala lokal, regional dan nasional maupun internasional (Saragih, 2000). Salah satu usaha budidaya peternakan yang sekarang ini banyak dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan gizi adalah sapi perah. Usaha ternak sapi perah di Indonesia masih bersifat subsistem oleh peternak kecil dan belum mencapai usaha yang berorientasi ekonomi. Rendahnya tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan oleh kurangnya modal, serta pengetahuan/keterampilan peternak yang mencakup aspek reproduksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pascapanen, penerapan sistem pencatatan, pemerahan, sanitasi, dan pencegahan penyakit. Selain itu pengetahuan peternak mengenai aspek tataniaga harus ditingkatkan sehingga keuntungan yang diperoleh sebanding dengan pemeliharaannya. Menurut Laporan Direktorat Jenderal Peternakan, Indonesia masih mengimpor susu 80 % setiap tahunnya. Produksi susu nasional belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan konsumsi dan impor susu akan terus meningkat, sehingga perlu peningkatan populasi dan efesiensi produksi susu serta diversifikasi ternak perah. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka disamping usaha yang dilakukan pemerintah maupun swasta, usaha peternakan sapi, kerbau, dan kambing perah mempunyai prospek untuk dikembangkan pada masa sekarang dan yang akan datang. Ketidakseimbangan produksi dengan permintaan konsumen dalam waktu yang lama menyebabkan penurunan populasi beberapa jenis ternak dan sentra pengembangannya di Indonesia, khususnya terhadap sapi perah. Keadaan ini merupakan peluang dan tantangan dalam rangka otonomi daerah untuk mengupayakan pengembangan komoditi peternakan dan sumberdaya alam (SDA) yang berbasis lokal dan sumberdaya manusia (SDM) serta sumberdaya buatan yang tersedia. Kabupaten Sinjai menyimpan potensi peternakan yang sangat besar baik potensi ternak, lahan, sumberdaya manusia dan potensi agroklimat wilayah yang beragam yang memungkinkan bagi pengembangan berbagai jenis komoditi ternak, sehingga sudah sepantasnya pembangunan di bidang peternakan menjadi tumpuan perekonomian masyarakat di Kabupaten Sinjai. Selengkapnya download disini. Tambahkan Halaman Ini Pada Social Bookmarking Favorit Anda!. |





























