| Analisis Finansial Usaha Peternakan Ayam Broiler Pola Kemitraan |
|
|
|
| Oleh Ir. H. Thamrin Salam, MS dan TIM |
| Sabtu, 12 Desember 2009 02:57 |
|
Pembangunan peternakan merupakan
bagian dari pembangunan keseluruhan
yang bertujuan untuk menyediakan
pangan hewani berupa daging, susu, serta
telur yang bernilai gizi tinggi,
meningkatkan pendapatan petani peternak,
serta menambah devisa dan memperluas
kesempatan kerja. Hal inilah yang
mendorong pembangunan sektor
peternakan sehingga pada masa yang akan
datang diharapkan dapat memberikan
kontribusi yang nyata dalam
pembangunan perekonomian bangsa.
Untuk mencapai pembangunan pertanian
pada umumnya dan sektor peternakan
khususnya, maka sebagai penunjang
kebutuhan protein hewani yang
merupakan bagian dari kebutuhan dasar
manusia perlu di usahakan produktifitas
yang maksimal sehingga dapat
meningkatkan pendapatan petani peternak.
Dalam upaya pemenuhan protein hewani
dan peningkatan pendapatan peternak,
maka pemerintah dan peternak telah
berupaya mendayagunakan sebagian besar
sumber komoditi ternak yang
dikembangkan, diantaranya adalah ayam
pedaging (broiler). Sebagaimana
diketahui ayam broiler merupakan ternak
penghasil daging yang relatif lebih cepat
dibandingkan dengan ternak potong
lainnya. Hal inilah yang medorong
sehingga banyak peternak yang
mengusahakan peternakan ayam broiler
ini. Perkembangan tersebut didukung
oleh semakin kuatnya industri hilir seperti
perusahaan pembibitan (Breeding Farm),
perusahaan pakan ternak (Feed Mill),
perusahaan obat hewan dan peralatan
peternakan (Saragih, 2000).
Berdasarkan data Statistik Peternakan
Sulawesi Selatan jumlah populasi ternak
ayam broiler dari tahun ketahun
mengalami peningkatan, yaitu tahun
1998, 1999, 2000, 2001 dan 2002 masingmasing
masingmasing
berjumlah 1.699.086 ekor,
1.774.021 ekor, 2.143.650 ekor, 2.545.753
ekor dan 3.131.201 ekor. Khusus
Kabupaten Gowa, menurut Anonim
(2005) bahwa, jumlah populasi ternak
ayam broiler pada tahun 1999, 2003 dan
2006 mengalami peningkatan setiap tahun
masing-masing 431.693 ekor, 1.538.900
ekor dan 1.734.150 ekor, rata-rata 8,03 %
pertahun.
Perkembangan populasi ternak ayam
broiler tidak terlepas dari permasalahan
yang menjadi dilema bagi peternak dan
sulit dipecahkan oleh peternak yaitu aspek
pasar dan penyediaan sarana produksi
yang tidak seimbang dengan harga jual
produksi, sehingga membuat peternak
takut mengambil resiko untuk
mengembangkan usaha peternakan ayam
broiler dengan skala produksi lebih besar.
Untuk mengatasi permasalahan yang
dihadapi oleh peternak maka diperlukan
peran pemerintah dalam menggerakan
perusahaan swasta dan lembaga-lembaga
pembiayaan agribisnis dalam menunjang
pengembangan produksi peternakan
khususnya ayam broiler. Peran
perusahaan dan lembaga-lembaga
agribisnis ini sangat membantu
petani/peternak yakni dalam menyiapkan
sarana produksi berupa bibit, pakan, obatobatan,
vaksin, vitamin dan pemasaran
hasil peternakan dengan pola kemitraan.
Pembangunan peternakan merupakan bagian dari pembangunan keseluruhan yang bertujuan untuk menyediakan pangan hewani berupa daging, susu, serta telur yang bernilai gizi tinggi, meningkatkan pendapatan petani peternak, serta menambah devisa dan memperluas kesempatan kerja. Hal inilah yang mendorong pembangunan sektor peternakan sehingga pada masa yang akan datang diharapkan dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam pembangunan perekonomian bangsa. Untuk mencapai pembangunan pertanian pada umumnya dan sektor peternakan khususnya, maka sebagai penunjang kebutuhan protein hewani yang merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia perlu di usahakan produktifitas yang maksimal sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani peternak. Dalam upaya pemenuhan protein hewani dan peningkatan pendapatan peternak, maka pemerintah dan peternak telah berupaya mendayagunakan sebagian besar sumber komoditi ternak yang dikembangkan, diantaranya adalah ayam pedaging (broiler). Sebagaimana diketahui ayam broiler merupakan ternak penghasil daging yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan ternak potong lainnya. Hal inilah yang medorong sehingga banyak peternak yang mengusahakan peternakan ayam broiler ini. Perkembangan tersebut didukung oleh semakin kuatnya industri hilir seperti perusahaan pembibitan (Breeding Farm), perusahaan pakan ternak (Feed Mill), perusahaan obat hewan dan peralatan peternakan (Saragih, 2000). Berdasarkan data Statistik Peternakan Sulawesi Selatan jumlah populasi ternak ayam broiler dari tahun ketahun mengalami peningkatan, yaitu tahun 1998, 1999, 2000, 2001 dan 2002 masingmasing berjumlah 1.699.086 ekor, 1.774.021 ekor, 2.143.650 ekor, 2.545.753 ekor dan 3.131.201 ekor. Khusus Kabupaten Gowa, menurut Anonim (2005) bahwa, jumlah populasi ternak ayam broiler pada tahun 1999, 2003 dan 2006 mengalami peningkatan setiap tahun masing-masing 431.693 ekor, 1.538.900 ekor dan 1.734.150 ekor, rata-rata 8,03 % pertahun. Perkembangan populasi ternak ayam broiler tidak terlepas dari permasalahan yang menjadi dilema bagi peternak dan sulit dipecahkan oleh peternak yaitu aspek pasar dan penyediaan sarana produksi yang tidak seimbang dengan harga jual produksi, sehingga membuat peternak takut mengambil resiko untuk mengembangkan usaha peternakan ayam broiler dengan skala produksi lebih besar. Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh peternak maka diperlukan peran pemerintah dalam menggerakan perusahaan swasta dan lembaga-lembaga pembiayaan agribisnis dalam menunjang pengembangan produksi peternakan khususnya ayam broiler. Peran perusahaan dan lembaga-lembaga agribisnis ini sangat membantu petani/peternak yakni dalam menyiapkan sarana produksi berupa bibit, pakan, obatobatan, vaksin, vitamin dan pemasaran hasil peternakan dengan pola kemitraan. Selengkapnya download disini. Tambahkan Halaman Ini Pada Social Bookmarking Favorit Anda!. |





























