| Penyakit Cacing Hati (Fascioliasis) Pada Sapi Bali di Perusahaan Daerah RPH Kota Makassar |
|
|
|
| Oleh Tim Dosen STPP Gowa |
| Sabtu, 12 Desember 2009 02:41 |
|
Produksi daging sapi meskipun menduduki
rangking kedua setelah produksi daging
unggas, tetapi sampai saat ini masih belum
mampu memenuhi tuntutan kebutuhan
daging secara keseluruhan. Kendala yang
dihadapi dalam peningkatan produktivitas
peternakan rakyat adalah peternak masih
berpikiran beternak adalah usaha sambilan.
Usaha yang perlu ditempuh adalah
memperbaiki tatalaksana budidaya mulai
dari pemilihan bibit, pakan, pemeliharaan
sampai pakan termasuk didalamnya
manajemen kesehatan (Anonim, 2001).
Berkaitan masalah pemeliharaan masih
banyak yang harus mendapatkan perhatian
agar angka kelahiran dapat ditingkatkan
setinggi mungkin sedangkan angka
kematian dapat ditekan serendah mungkin.
Pengendalian terhadap penyakit infeksius
maupun non-infeksius seperti parasit sering
dianggap sepele dan kurang diperhatikan
karena serangan yang tidak berbahaya
umumnya tidak jelas dan serangan parasit
kebanyakan bersifat subklinik ( Subronto
dan Tjahajati, 2001).
Pada umumnya parasit merugikan
kesehatan hewan maupun manusia, dari
sudut pandang ekonomi kerugian terjadi
akibat rusaknya organ karena parasitnya
sendiri, kematian ternak dan biaya yang
harus ditanggung untuk pengendaliaanya.
Kerugian ekonomi akibat cacing berupa
perkembangan tubuh ternak terhambat,
sedangkan pada sapi dewasa kenaikan berat
badan tidak tercapai, organ tubuh rusak dan
kualitas karkas jelek, menurunnya fertilitas
dan predisposisi penyakit metabolik. Hal ini
disebabkan oleh menurunnya nafsu makan,
perubahan distribusi air, elektrolit dan
protein darah (Anderson and Waller, 1983).
Produksi daging sapi meskipun menduduki rangking kedua setelah produksi daging unggas, tetapi sampai saat ini masih belum mampu memenuhi tuntutan kebutuhan daging secara keseluruhan. Kendala yang dihadapi dalam peningkatan produktivitas peternakan rakyat adalah peternak masih berpikiran beternak adalah usaha sambilan. Usaha yang perlu ditempuh adalah memperbaiki tatalaksana budidaya mulai dari pemilihan bibit, pakan, pemeliharaan sampai pakan termasuk didalamnya manajemen kesehatan (Anonim, 2001). Berkaitan masalah pemeliharaan masih banyak yang harus mendapatkan perhatian agar angka kelahiran dapat ditingkatkan setinggi mungkin sedangkan angka kematian dapat ditekan serendah mungkin. Pengendalian terhadap penyakit infeksius maupun non-infeksius seperti parasit sering dianggap sepele dan kurang diperhatikan karena serangan yang tidak berbahaya umumnya tidak jelas dan serangan parasit kebanyakan bersifat subklinik ( Subronto dan Tjahajati, 2001).
Pada umumnya parasit merugikan kesehatan hewan maupun manusia, dari sudut pandang ekonomi kerugian terjadi akibat rusaknya organ karena parasitnya sendiri, kematian ternak dan biaya yang harus ditanggung untuk pengendaliaanya. Kerugian ekonomi akibat cacing berupa perkembangan tubuh ternak terhambat, sedangkan pada sapi dewasa kenaikan berat badan tidak tercapai, organ tubuh rusak dan kualitas karkas jelek, menurunnya fertilitas dan predisposisi penyakit metabolik. Hal ini disebabkan oleh menurunnya nafsu makan, perubahan distribusi air, elektrolit dan protein darah (Anderson and Waller, 1983). Hasil survei di beberapa pasar hewan dan rumah potong hewan di Indonesia menunjukkan bahwa 90% sapi yang berasal dari peternakan rakyat terjadi infeksi cacingan, seperti cacing hati (Abidin, 2002). Sedangkan data pada Dinas Peternakan Propinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2004 sebanyak 7903 kasus penyakit cacing (helminthiasis) meningkat 60,2% dibanding kejadian serupa pada tahun 2003 sebanyak 3142 kasus (Anonimus, 2005). Menurut Suweta (1982) pada ternak sapi tiap tahunnya terjadi kerugian sebesar 20 milyar rupiah akibat penyakit cacing hati dengan perkiraan hilangnya daging sebesar 5 - 7,5 juta kilogram karena penurunan berat badan. Kerugian sebesar ini hanya disebabkan oleh cacing hati (Fascioliasis) dan akan jauh lebih besar lagi bila dihitung kerugian yang diakibatkan oleh cacing lain. Kerugian yang jumlahnya tidak kecil akibat penyakit cacing ini merupakan suatu problem yang sangat dilematik dalam usaha bidang peternakan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk peternakan.
Penyakit cacing ini pada berbagai kasus umumnya menyerang ternak yang dipelihara dengan tata laksana kurang baik, khususnya ternak yang berumur muda. Pada ternak sapi Bali yang telah diketahui lebih resisten terhadap parasit dibandingkan bangsa sapi Eropa yang ada di Indonesia masih banyak ditemukan terinfeksi cacing. Berdasarkan uraian diatas maka dilakukan penelitian tentang cacing Fasciola sp. pada sapi Bali untuk mengetahui berapa jumlah sapi yang terinfeksi Fascioliasis pada Perusda Rumah Potong Hewan Kota Makassar sehingga dapat dilakukan usaha pencegahan, pengobatan dan pengendalian secara tepat dan terencana. Selengkapnya download disini.
Tambahkan Halaman Ini Pada Social Bookmarking Favorit Anda!. |




























