| Material Organik Sebagai Energi Dalam Proses Pembangunan Pertanian Yang Berkelanjutan |
|
|
|
| Oleh P. Tandi Balla, SP, M.Si |
| Jumat, 20 November 2009 01:13 |
|
(Survai agroekosistem pada Bapak Yaya Tasrif petani pembudidaya tanaman padi di Desa Tanjungsiang Kecamatan Sindanglaya Kabupaten Subang – Jabar)
Oleh
P. Tandi Balla
Material organik berupa tanaman dan kotoran hewan banyak dijumpai di tempat tinggal petani (pekarangan) ataupun di daerah pinggiran yang tidak jauh dari tempat petani melakukan kegiatan usaha taninya, seperti daerah sekitar pinggiran hutan. Keberadaan material tersebut ada yang tumbuh liar dan ada pula yang sengaja ditanam. Manfaat yang dapat diperoleh dengan keberadaan material organik adalah sangat membantu petani karena dapat dimanfaatkan sebagai pupuk atau pestisida nabati, dan selain itu, material tersebut lebih bersifat ramah lingkungan.
Petani sebagai Penggerak Pembangunan Pertanian
Petani (pelaku utama) sebagai makhluk sosial, dalam kehidupannya di dunia ini tidak terlepas dari perubahan. Perubahan yang terjadi sebagai akibat dari proses pembangunan yang dapat berpotensi menimbulkan kerawanan. Masalah pokoknya menjadi bagaimana memungkinkan berlangsungnya proses pembangunan yang membawa keberlanjutan dengan perubahan (continuity with change). Keberlanjutan tersebut perlu untuk memelihara kesinambungan, sedangkan perubahan diperlukan karena menyertai pembangunan.
Aktivitas yang dilakukan oleh manusia dalam pembangunan bertujuan untuk memberi perubahan ke arah yang lebih baik; dan agar perubahan itu dapat terjadi maka sasaran perubahan harus siap merespon setiap rangsangan (stimulus) yang akan mengantarnya menuju pada kehidupan yang lebih baik.
Pembangunan pertanian di Indonesia, khususnya pada subsektor pertanian tanaman pangan dalam pelaksanaannya ditunjang oleh sejumlah besar petani yang masih tradisional dengan luasan unit usaha tani yang sempit, maka untuk menjaga keberlangsungan usaha taninya perlu ditemukan pola yang tepat untuk memobilisasi partisipasi mereka. Dalam usaha menumbuhkan tanaman, khususnya padi sawah (rice-field) manusia seharusnya menciptakan lingkungan agar dapat sesuai dengan persyaratan pertumbuhan tanaman padi, seperti media tanam yang harus berstruktur lumpur dan menciptakan lapisan kedap air, agar petakan sawah selalu dapat digenangi dengan air. Pengolahan lahan basah (wet rice cultivation), berawal dari kebiasaan-kebiasaan tradisional, dan ini merupakan karakteristik umum dari ekosistem alamiah, yaitu membuka hutan, membuat pematang (dikes), kemudian menanami sawah dengan tanaman padi (paddy).
Budidaya Padi yang Berorientasi Agroekosistem
Sekalipun cara-cara budidaya yang dilakukan oleh para petani dalam bercocok tanam tanaman padi sudah sangat tinggi, tetapi kebiasaan-kebiasaan yang tradisional masih melekat pada sebagian besar petani. Ketergantungan mereka pada fenomena alam terutama agroklimat dan kearifan lingkungan sosial budaya dimana mereka hidup bermasyarakat, memberi pengaruh yang besar. Keterpengaruhan mereka pada lingkungannya membentuk karakter dari diri petani itu sendiri, sekaligus diikuti pula oleh orang-orang yang terdekat dengan mereka. Rasa kebersamaan, senasib dan sepenanggungan (dalam rasa dan karsa) sebagai ciri khas yang merupakan hasil bentukan lingkungan pada diri setiap individu yang sering terlihat pada masyarakat perdesaan, dan keberadaannya sudah harus mereka terima sebagai suatu konsekuensi nyata; dan ini pulalah yang merupakan perwujudan dari kekuatan-kekuatan lingkungan. Secanggih apapun teknologi yang diperuntukkan bagi pembangunan pertanian di daerah perdesaan, semestinya dapat memberi manfaat terhadap kelestarian pada lingkungan hidup. Karena para petani (pelaku utama) tidak hanya menerima pemberian dari lingkungannya, tetapi sebaliknya harus tahu mensyukurinya dan memelihara kebaikan lingkungan tersebut agar selalu dalam kondisi yang seimbang (balance).
Menyikapi kondisi tersebut di atas, maka Beratha (1991:4) mengatakan bahwa, apabila keseimbangan terganggu akan terjadi perubahan alami dan apabila ini berlangsung terus-menerus, berpengaruh pada lingkungan yang pada akhirnya akan menimbulkan masalah lingkungan. Selanjutnya, Amsyari (1986:23) mengemukakan bahwa, kehidupan di dunia ini tidak terlepas dari perubahan-perubahan suatu lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan fisik, lingkungan biologis, dan lingkungan sosial manusia yang selalu berubah dari waktu ke waktu.
Manusia sebagai salah satu bagian dalam sistem sosial sudah seharusnya memahami kondisi yang ada di sekitarnya, dan untuk melakukan aktivitasnya dia harus memperhatikan ekosistem. Pandangan sistem menurut Capra (1999:371), adalah melihat dunia dalam pengertian hubungan dan integrasi. Sebagai penyelaras untuk mengurangi gangguan-gangguan, maka etika dan moralitas perlu disertakan pula (Azhari, 1997:43).
Rambo (1982) mengatakan bahwa, energi, materi dan informasi merupakan tiga aspek sebagai fungsi pokok dari keseluruhan sistem di alam yang melakukan pertukaran ketika proses seleksi atau adaptasi berlangsung. Sebagai sebuah proses, ia dapat muncul dari sistem sosial (petani) yang memberi pengaruh pada alirannya secara timbal balik. Selanjutnya, bahwa sistem tersebut terdiri atas subsistem-subsistem yang bekerja secara teratur sebagai suatu kesatuan. Keteraturan itu terjadi oleh adanya aliran energi dan materi yang dikendalikan oleh aliran informasi.
Di dalam kesatuan ekosistem, kedudukan manusia sama dengan makhluk hidup lainnya dan tidak bisa dipisahkan. Karena itu, untuk kelangsungan hidupnya manusia sangat tergantung pada kelestarian ekosistemnya, dan ini harus tetap dijaga agar keseimbangannya tidak terganggu (Salim, 1987:28; Soerjani, 1987:154; Sumaatmadja, 2000:77).
(Survai agroekosistem pada Bapak Yaya Tasrif petani pembudidaya tanaman padi di Desa Tanjungsiang Kecamatan Sindanglaya Kabupaten Subang – Jabar) Oleh P. Tandi Balla Material organik berupa tanaman dan kotoran hewan banyak dijumpai di tempat tinggal petani (pekarangan) ataupun di daerah pinggiran yang tidak jauh dari tempat petani melakukan kegiatan usaha taninya, seperti daerah sekitar pinggiran hutan. Keberadaan material tersebut ada yang tumbuh liar dan ada pula yang sengaja ditanam. Manfaat yang dapat diperoleh dengan keberadaan material organik adalah sangat membantu petani karena dapat dimanfaatkan sebagai pupuk atau pestisida nabati, dan selain itu, material tersebut lebih bersifat ramah lingkungan. Petani sebagai Penggerak Pembangunan Pertanian Petani (pelaku utama) sebagai makhluk sosial, dalam kehidupannya di dunia ini tidak terlepas dari perubahan. Perubahan yang terjadi sebagai akibat dari proses pembangunan yang dapat berpotensi menimbulkan kerawanan. Masalah pokoknya menjadi bagaimana memungkinkan berlangsungnya proses pembangunan yang membawa keberlanjutan dengan perubahan (continuity with change). Keberlanjutan tersebut perlu untuk memelihara kesinambungan, sedangkan perubahan diperlukan karena menyertai pembangunan. Aktivitas yang dilakukan oleh manusia dalam pembangunan bertujuan untuk memberi perubahan ke arah yang lebih baik; dan agar perubahan itu dapat terjadi maka sasaran perubahan harus siap merespon setiap rangsangan (stimulus) yang akan mengantarnya menuju pada kehidupan yang lebih baik. Pembangunan pertanian di Indonesia, khususnya pada subsektor pertanian tanaman pangan dalam pelaksanaannya ditunjang oleh sejumlah besar petani yang masih tradisional dengan luasan unit usaha tani yang sempit, maka untuk menjaga keberlangsungan usaha taninya perlu ditemukan pola yang tepat untuk memobilisasi partisipasi mereka. Dalam usaha menumbuhkan tanaman, khususnya padi sawah (rice-field) manusia seharusnya menciptakan lingkungan agar dapat sesuai dengan persyaratan pertumbuhan tanaman padi, seperti media tanam yang harus berstruktur lumpur dan menciptakan lapisan kedap air, agar petakan sawah selalu dapat digenangi dengan air. Pengolahan lahan basah (wet rice cultivation), berawal dari kebiasaan-kebiasaan tradisional, dan ini merupakan karakteristik umum dari ekosistem alamiah, yaitu membuka hutan, membuat pematang (dikes), kemudian menanami sawah dengan tanaman padi (paddy). Budidaya Padi yang Berorientasi Agroekosistem Sekalipun cara-cara budidaya yang dilakukan oleh para petani dalam bercocok tanam tanaman padi sudah sangat tinggi, tetapi kebiasaan-kebiasaan yang tradisional masih melekat pada sebagian besar petani. Ketergantungan mereka pada fenomena alam terutama agroklimat dan kearifan lingkungan sosial budaya dimana mereka hidup bermasyarakat, memberi pengaruh yang besar. Keterpengaruhan mereka pada lingkungannya membentuk karakter dari diri petani itu sendiri, sekaligus diikuti pula oleh orang-orang yang terdekat dengan mereka. Rasa kebersamaan, senasib dan sepenanggungan (dalam rasa dan karsa) sebagai ciri khas yang merupakan hasil bentukan lingkungan pada diri setiap individu yang sering terlihat pada masyarakat perdesaan, dan keberadaannya sudah harus mereka terima sebagai suatu konsekuensi nyata; dan ini pulalah yang merupakan perwujudan dari kekuatan-kekuatan lingkungan. Secanggih apapun teknologi yang diperuntukkan bagi pembangunan pertanian di daerah perdesaan, semestinya dapat memberi manfaat terhadap kelestarian pada lingkungan hidup. Karena para petani (pelaku utama) tidak hanya menerima pemberian dari lingkungannya, tetapi sebaliknya harus tahu mensyukurinya dan memelihara kebaikan lingkungan tersebut agar selalu dalam kondisi yang seimbang (balance). Silahkan download artikel selengkapnya, klik disini.
Tambahkan Halaman Ini Pada Social Bookmarking Favorit Anda!. |



























