| Potensi Daun Gamal Sebagai Bahan Pupuk Organik Cair Melalui Perlakuan Fermentasi |
|
|
|
| Oleh Dr. Ir. Lahadassy Jusuf, MS |
| Minggu, 15 November 2009 01:04 |
|
PENDAHULUAN
Sejak dua dasawarsa terakhir telah
disadari bahwa hubungan peningkatan
produksi tanaman dengan kondisi lahan
tidak lagi karena interaksi positif antara
potensi lahan yang tinggi dengan input
yang diberikan, tetapi lebih tergantung
pada jumlah dan intensitas input-input
kimia yang diaplikasikan dengan peranan
sifat-sifat tanah yang relatif kecil.
Kondisi seperti ini berdampak pada
penggunaan input-input kimia yang terus
meningkat sehingga pada akhirnya
menimbulkan fenomena degradasi tanah
dan lingkungan yang terus mengancam
kestabilan produksi pertanian.
Di Indonesia, intensitas pemakaian
pupuk kimia telah terbukti meningkat dari
waktu ke waktu. Sejak awal pelaksanaan
sistem Bimas, diperkenalkan dosis pupuk
untuk tanaman padi sawah misalnya
hanya sekitar 50 - 70 kg per ha. Dalam
rentang waktu kurang lebih 25 tahun,
terjadi peningkatan dosis pupuk 5 – 6 kali
lipat dan hingga saat ini telah mencapai
dosis total lebih dari 300 kg per ha,
sementara produksi padi hanya meningkat
50 persen (Sugito, 2002).
Intensifikasi pertanian melalui
penggunaan varietas unggul dan
pengelolaan hara secara intensif dengan
bermacam-macam paket teknologi, diakui
mampu merubah citra Indonesia dari
negara pengimpor beras terbesar menjadi
negara yang mampu berswasembada.
Keberhasilan tersebut, di sisi lain
berdampak pada perusakan dan
pengurasan potensi lahan serta lingkungan
biotik maupun abiotik melebihi
kemampuan ekosistem tersebut untuk
memulihkan dirinya. Pengelolaan
kesuburan tanah pada sistem ini hanya
ditekankan pada penggantian hara melalui
penambahan pupuk anorganik secara
berlebihan tanpa adanya upaya untuk
mempertahankan kesuburan tanah secara
menyeluruh yang mencakup kesuburan
fisik, kimia maupun biologi tanah. Hal ini
berdampak pada makin meluasnya lahanlahan
kritis yang diperkirakan setiap tahun
bertambah seluas 300.000 – 600.000
hektar (Djoyohadikusumo, 1995).
Menyadari akan hal tersebut maka
sejak dua dasawarsa terakhir telah
diupayakan bentuk-bentuk teknologi
alternatif untuk menekan penggunaan
pupuk kimia dengan memanfaatkan materi
atau pupuk organik. Walaupun hasilnya
cukup mengembirakan, namun sampai
saat ini penggunaan bentuk-bentuk
organik tersebut belum berjalan
sebagaimana mestinya. Kandungan hara
bentuk-bentuk organik yang rendah
dibarengi dengan kondisi kesuburan tanah
yang makin kritis, mengharuskan
penggunaan bentuk-bentuk organik dalam
jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan
hara bagi tanaman. Kondisi ini
merupakan kendala yang sangat berat
dirasakan petani dengan segala
keterbatasan dalam usahataninya.
Melihat permasalahan di atas,
dibutuhkan usaha maksimal untuk
menggali dan memanfaatkan potensi
bahan organik yang tersedia secara alami
diantaranya dapat berupa pemanfaatan
tanaman leguminosae sebagai bentuk
organik yang siap dan mampu berperan
sebagai suplayer hara secara cepat dan
tepat disamping perbaikan fisik dan
biologi tanah. Tanaman Gamal
(Gliricidia sepium) merupakan salah satu
jenis leguminoceae yang cukup berpotensi
untuk menjawab permasalahan ini. Gamal
memiliki keunggulan dibandingkan jenis
leguminoceae lain, utamanya yang
berbentuk pohon seperti 1) dapat dengan
mudah dibudidayakan; 2)
pertumbuhannya cepat; 3) produksi
biomassanya tinggi; serta 4) berpotensi
sebagai tanaman konservasi khususnya
dalam sistem budidaya lorong (alley
cropping). Selain itu, gamal mempunyai
kandungan nitrogen yang cukup tinggi
dengan C/N rendah, menyebabkanPENDAHULUAN
Sejak dua dasawarsa terakhir telah disadari bahwa hubungan peningkatan produksi tanaman dengan kondisi lahan tidak lagi karena interaksi positif antara potensi lahan yang tinggi dengan input yang diberikan, tetapi lebih tergantung pada jumlah dan intensitas input-input kimia yang diaplikasikan dengan peranan sifat-sifat tanah yang relatif kecil. Kondisi seperti ini berdampak pada penggunaan input-input kimia yang terus meningkat sehingga pada akhirnya menimbulkan fenomena degradasi tanah dan lingkungan yang terus mengancam kestabilan produksi pertanian. Di Indonesia, intensitas pemakaian pupuk kimia telah terbukti meningkat dari waktu ke waktu.
Sejak awal pelaksanaan sistem Bimas, diperkenalkan dosis pupuk untuk tanaman padi sawah misalnya hanya sekitar 50 - 70 kg per ha. Dalam rentang waktu kurang lebih 25 tahun, terjadi peningkatan dosis pupuk 5 – 6 kali lipat dan hingga saat ini telah mencapai dosis total lebih dari 300 kg per ha, sementara produksi padi hanya meningkat 50 persen (Sugito, 2002). Intensifikasi pertanian melalui penggunaan varietas unggul dan pengelolaan hara secara intensif dengan bermacam-macam paket teknologi, diakui mampu merubah citra Indonesia dari negara pengimpor beras terbesar menjadi negara yang mampu berswasembada. Keberhasilan tersebut, di sisi lain berdampak pada perusakan dan pengurasan potensi lahan serta lingkungan biotik maupun abiotik melebihi kemampuan ekosistem tersebut untuk memulihkan dirinya. Pengelolaan kesuburan tanah pada sistem ini hanya ditekankan pada penggantian hara melalui penambahan pupuk anorganik secara berlebihan tanpa adanya upaya untuk mempertahankan kesuburan tanah secara menyeluruh yang mencakup kesuburan fisik, kimia maupun biologi tanah. Hal ini berdampak pada makin meluasnya lahanlahan kritis yang diperkirakan setiap tahun bertambah seluas 300.000 – 600.000 hektar (Djoyohadikusumo, 1995). Menyadari akan hal tersebut maka sejak dua dasawarsa terakhir telah diupayakan bentuk-bentuk teknologi alternatif untuk menekan penggunaan pupuk kimia dengan memanfaatkan materi atau pupuk organik. Walaupun hasilnya cukup mengembirakan, namun sampai saat ini penggunaan bentuk-bentuk organik tersebut belum berjalan sebagaimana mestinya. Kandungan hara bentuk-bentuk organik yang rendah dibarengi dengan kondisi kesuburan tanah yang makin kritis, mengharuskan penggunaan bentuk-bentuk organik dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan hara bagi tanaman. Kondisi ini merupakan kendala yang sangat berat dirasakan petani dengan segala keterbatasan dalam usahataninya. Melihat permasalahan di atas, dibutuhkan usaha maksimal untuk menggali dan memanfaatkan potensi bahan organik yang tersedia secara alami diantaranya dapat berupa pemanfaatan tanaman leguminosae sebagai bentuk organik yang siap dan mampu berperan sebagai suplayer hara secara cepat dan tepat disamping perbaikan fisik dan biologi tanah. Tanaman Gamal (Gliricidia sepium) merupakan salah satu jenis leguminoceae yang cukup berpotensi untuk menjawab permasalahan ini. Gamal memiliki keunggulan dibandingkan jenis leguminoceae lain, utamanya yang berbentuk pohon seperti 1) dapat dengan mudah dibudidayakan; 2) pertumbuhannya cepat; 3) produksi biomassanya tinggi; serta 4) berpotensi sebagai tanaman konservasi khususnya dalam sistem budidaya lorong (alley cropping). Selengkapnya, download disini.
Tambahkan Halaman Ini Pada Social Bookmarking Favorit Anda!. |




























