|
Penggunaan pupuk kimia sintetis di Indonesia selama kurang lebih 20 tahun terakhir ini terus meningkat. Terjadi kenaikan penggunaan pupuk kimia sintetis hampir lima kali lipat, sementara produksi pertanian tanaman pangan terhadap peng-gunaan pupuk tersebut hanya meningkat 50%. Ini menunjukkan bahwa penggunaan pupuk anorganik sudah tidak efisien dan cenderung menyebabkan terjadinya pe-nurunan produktivitas lahan karena me-nurunnya kandungan bahan organik tanah (Sugito, 2002). Pertanian organik di Indonesia dapat menjadi suatu alternatif pemenuhan ke-butuhan pangan di Indonesia dalam jangka panjang. Sasaran jangka pendek dari sistim pertanian organik ini adalah kesadaran masyarakat dan petani akan perlunya melestarikan lahan dan menjaga lingkungan dengan mengurangi peng-gunaan bahan kimia sintetis seperti pupuk kimia dan pestisida dan berusaha semam-punya memanfaatkan bahan-bahan alami di sekitar mereka (Husnain dan Syah-buddin, 2005).
Mengatasi masalah ketergantungan pupuk anorganik perlu diupayakan berbagai tek-nologi alternatif yang ramah lingkungan. Salah satunya adalah penggunaan pupuk organik daun gamal (Gliricidia sepium). Pertumbuhan tanaman cepat, produksi biomassa tinggi, dan mudah dibudidaya-kan. Tanaman ini mampu menyediakan bahan organik dalam jumlah besar, kandungan nitrogen yang cukup tinggi dengan ratio C/N yang rendah. Djuarnani (2005) menguraikan bahwa gamal ber-umur satu tahun memiliki 3 – 6,4% N, 0,31% P, 0,77% K, 15 – 30% serat kasar dan 10% abu.
Lebih lanjut, Jusuf (2006) menyatakan bahwa fermentasi daun gamal akan lebih baik jika dilakukan terhadap hasil perasannya, dengan kandungan nitrogen yang lebih tinggi yaitu 3,46 persen untuk lama fermentasi 8 minggu dibandingkan dengan hasil gerusan yang hanya 3,27 persen. Kotoran ternak sapi merupakan salah satu bahan organik yang berpotensi untuk dijadikan pupuk organik. Kotoran sapi padat memiliki kandungan hara antara lain 0,40% N, 0,20% P, dan 0,10 % K, namun kandungan hara ini belum cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman sehingga perlu penambahan bahan organik lainnya untuk meningkatkan kadar unsur hara agar menjadi pupuk organik yang berkualitas (Setiawan, 2005). Masalah lain yang meresahkan petani padi adalah keong mas (siput murbai).
Ditinjau dari luas areal yang diserang, maka keong mas bisa dikategorikan sebagai hama utama, karena serangannya lebih luas dari rata-rata serangan tungro dan blas. Keong mas atau siput murbei (Pomacea canaliculata) merupakan salah satu orga-nisme yang berpotensi untuk dijadikan bahan pupuk organik. Populasi yang tinggi dimana kemampuan mereka ber-telur mencapai 1.000-1.200 butir dalam sebulan (Philippine Rice Research insti-tute, 2001). Kandungan protein mencapai 16 - 50 %, menunjukkan bahwa keong mas layak untuk dijadikan pupuk organik, sehingga potensi negatifnya dapat dialih-fungsikan menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi tanaman (Sulistiono, 2007).
Bahan organik Kompos daun gamal dan keong mas (KOSGAMAS) dapat di-sinergikan kedalam suatu formulasi pupuk organik yang berpotensi dalam mening-katkan produksi tanaman dan memper-baiki kondisi tanah yang mulai mengalami degradasi, maka ketergantungan pada pupuk anorganik sedikit demi sedikit dapat diminimalisir yang nantinya di-harapkan dapat memulihkan kondisi lahan pertanian.
KOSGAMAS merupakan kompos yang berbahan dasar kotoran sapi, daun gamal dan keong mas. Potensi kotoran sapi padat sebagaimana dilaporkan oleh Lingga (1991) mempunyai kandungan NPK yang rendah yaitu: 0,40% N, 0,20% P, dan 0,10% K, sedangkan kotoran ternak sapi cair memiliki NPK yang tinggi yaitu 1,00% N, 0,50% P, 1,50% K, dan tidak bisa digunakan secara langsung pada tanaman. Karena kandungan NPK yang rendah, dilakukan penambahan bahan berupa daun gamal dan keong mas. Gamal merupakan tanaman yang multifungsi. Purwanto (2007) menguraikan bahwa gamal berumur satu tahun memiliki 3 – 6,4% N, 0,31% P, 0,77% K, 15 – 30% serat kasar dan 10% abu K. Diharapkan bahwa daun gamal dapat meningkatkan kadar NPK kompos. (Selengkapnya download disini).
|