|
Susu kuda sudah dikenal di Eropa Timur sebagai minuman kesehatan sejak ber-abadabad yang lalu. Di Mongolia, Eropa Timur, daerah pegunungan di Asia Timur dan Rusia, susu kuda sudah diketahui khasiatnya, baik sebagai minuman sehari-hari maupun sebagai obat. Kaisar Mongolia, Djenghis Khan dan pasu-kannya adalah peminum susu kuda (Kosikowski, 1982). Sedangkan di Indo-nesia baru dikenal mulai tahun 1980-an. Di Rusia susu kuda diolah menjadi Koumiss yang dipakai untuk Koumiss therapy di rumah sakit di Samara, Moskwa, Leningrad, Volinsk dan lain-lain. Pada tahun 1962 sudah ada 23 rumah sakit di Rusia yang menggunakan Koumiss therapy untuk menanggulangi penyakit-penyakit tuberculosis (TBC), saluran pencernaan, vitaminosis, anemia, penyakit kardiovaskuler, lever, dan ginjal (Dharmojono, 1998). Di Indonesia, penggunaan susu kuda liar untuk pengobatan berbagai macam penyakit baru dikenal setelah ada pe-ngalaman beberapa pasien penderita leukimia yang disembuhkan (Nuroso, 1993). Sekitar tahun 1998 banyak beredar dan populer di masyarakat produk susu kuda dengan label susu “kuda liar” dan dipromosikan sebagai obat yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit, seperti paru-paru basah, tuberkulosis, tifus, anemia, kanker dan sebagainya. Susu kuda Sumbawa yang dijual dengan label susu “kuda liar” dinyatakan masa edarnya sampai beberapa bulan. Susu kuda liar kemudian ternyata adalah susu kuda Sumbawa yang dijual melalui apotik, toko obat, radio swasta, pasar swalayan, bandar udara, dan perorangan di beberapa kota di Indonesia.
Dari pengalaman di lapangan ternyata susu kuda Sumbawa yang disimpan pada suhu kamar sampai beberapa bulan mengalami fermentasi, tetapi tidak rusak. Sebagai perbandingan susu sapi yang disimpan pada suhu kamar dalam waktu 24 jam sudah rusak dan tidak dapt dikonsumsi lagi (Hermawati, 1998; Hermawati, 2001; Hermawati, 2002; Hermawati, 2003; dan Hermawati et. al., 2004). Masyarakat meyakini bahwa susu kuda Sumbawa mempunyai khasiat dapat mengobati bermacam-macam penyakit namun demikian khasiat tersebut belum berdasarkan pada hasil penelitian. Menu-rut Dharmojono (1998), masyarakat yang mengonsumsi susu kuda Sumbawa yakin khasiatnya dapat menyembuhkan ber-bagai penyakit seperti kanker, tuber-kulosis paruparu, saluran kencing, anemia, saluran pencernaan dan jenis penyakit lainnya yang tidak dapat ditanggulangi oleh dokter, sehingga oleh masyarakat sering disebut sebagai “obat dewa” (Nuroso, 1993).
Dilain pihak ada sebagian masyarakat yang menyangsikan khasiat susu kuda Sumbawa sebagai obat, sebagaimana dikutip dari pemberitaan beberapa media masa. Susu kuda Sumbawa pernah dilarang oleh departemen kesehatan (DEPKES) untuk diiklankan dan diedarkan dengan label “susu kuda liar” yang dapat menyembuhkan beberapa macam penyakit dan dilarang dijual di apotek dan pasar swalayan. Larangan ini membuat asosiasi persusuan dan distributor susu kuda liar resah dan dalam pertemuannya dengan Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (DITJEN POM) disepakati bahwa semua produk susu kuda, kata kuda liar diganti dengan “kuda Bima” dan dinyatakan sebagai produk minuman susu yang baik untuk kesehatan.
Berawal dari fenomena alam bahwa susu kuda Bima tidak rusak walaupun disimpan dalam suhu kamar sampai beberapa bulan dan dan hasil beberapa penelitian memberi petunjuk adanya aktivitas antimikroba dalam susu kuda Sumbawa (Hermawati, 2002), maka peneliti mengangkat susu kuda Bima ini sebagai bahan penelitiannya. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan antimikroba kolostrum susu kuda Bima terhadap bakteri Bacillus anthracis. Pengambilan bakteri Bacillus anthracis dengan pertimbangan untuk mewakili jenis bakteri berspora dimana daerah asal peneliti merupakan daerah endemi antraks.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa kolostrum susu kuda Sum-bawa, aquades steril, NaCl fisiologis, spuit, larutan pepton water 3 ml, penicillin G 10 unit. Bakteri yang digunakan dalam penelitian ini adalah isolat B. anthracis yang diperoleh dari Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) Bogor dan merupakan hasil isolasi dari burung onta di Purwakarta Jawa Barat. Media yang digunakan adalah plat agar darah dan media biokemis yaitu urease, sitrate, gelatin, nitrat, glukosa, arabinosa, mannitol untuk karakterisasi pemurnian. Marmot digunakan sebagai hewan coba pada uji biologis. Media Mueller-Hinton Agar digunakan untuk uji sensitifitas.
Alat yang digunakan berupa centrifuge, paper disk, cottonbud, inkubator, kertas lakmus, gunting, gelas objek, erlenmeyer, kutimeter, botol 250 ml steril, ice box, mikro pipet, tabung reaksi 10 ml, spidol permanen, cawan petri, blood agar, kawat usa, vortex-mixer, mikroskop, dan biohazard cabinet.
|